Beranda / Berita / Musyawarah Komunitas BONSAI, Setelah Satu Tahun Kepengurusan

Musyawarah Komunitas BONSAI, Setelah Satu Tahun Kepengurusan

sssserambiMINANG.com – Adalah suatu keadaan yang lumrah; setelah berakhirnya masa mengemban amanah, akan ada yang menggantikan untuk meneruskan bahtera dan kembali berlayar. Demikian juga dengan Komunitas BONSAI. 20 November 2016 lalu menjadi awal yang baru. Satu tahun semenjak Komunitas BONSAI didirikan, tibalah masa untuk meregenerasi kepengurusan. Bertempat di ruang NA 101 gedung Mata Kuliah Umum Universitas Negeri Padang, musyawarah Komunitas BONSAI diselenggarakan dengan mengusung tema Pemimpin Sejati Tak Butuh Jabatan, Melainkan Sikap dan Tindakan sebagai Pembuktian.

Komunitas BONSAI digagas oleh mereka yang berkeinginan silaturahmi tetap terjaga dengan mendirikan suatu kelompok atau komunitas, supaya dapat bermanfaat dan tidak sekadar ngumpul-ngumpul saja. Maka lahirlah Komunitas BONSAI (Be ONe of the aweSome sociAl Initiators) yang mempunyai visi menjadi komunitas generasi peduli sosial yang berakhlak, mandiri, dan peduli terhadap lingkungan serta berkelas nasional. Sesuai dengan tagline-nya “Satu Hati Sejuta Aksi”, Komunitas BONSAI bertujuan mewujudkan generasi yang peduli sosial dan bermanfaat bagi masyarakat.

Adalah Muhammad Haris Sabri, Paradishe Bismi, dan Muhammad Zulfadhly. Tiga “sesepuh” Komunitas BONSAI yang juga merupakan founder; pada musyawarah ini adalah momentum berakhirnya mengemban amanah untuk diserahkan kepada mereka yang sudah saatnya pula melaksanakan tugas serupa. Namun, mereka tak serta merta lepas dari tugas sosial yang merupakan kegiatan rutin Komunitas BONSAI. Seperti siklus hujan yang berulang dan kembali ke bentuk asal, begitupun dengan sistem keanggotaan yang diterapkan. Tidak ada istilah demisioner di dalam Komunitas BONSAI, mereka akan kembali menjadi anggota seperti yang lainnya.

Muhammad Haris Sabri, selaku Ketua Komunitas BONSAI periode pertama, mengungkapkan sama sekali tidak menyangka perjalanan Komunitas BONSAI akan sampai pada titik ini. Tercabik antara terharu dan bangga, Haris berharap Komunitas BONSAI menjadi ladang amal. Bagi mereka yang dari awal telah mendirikan, juga bagi semua anggota. Sebab, lanjut Haris, dalam kegiatan sosial tak ada imbalan materi yang didapatkan, melainkan sebaliknya.

Sementara, Paradishe Bismi, yang hampir seluruh kegiatan dalam Komunitas BONSAI tak luput dari pemantauan dan kontribusinya, sudah menemukan keluarga yang hangat pada komunitas ini—pun anggota-anggota lain sebetulnya. Harapannya ke depan agar persaudaraan ini semakin erat, dan Komunitas BONSAI melahirkan aksi-aksi nyata yang bermanfaat bagi sekitar. Bahkan suatu saat nanti kehadiran Komunitas BONSAI dapat dirasakan hingga ke nasional.

Baca :   Jangan Diritu, Pria Ini Pura-Pura Buntung dan Hidup Dari Hasil Mengemis

Sedangkan Muhammad Zulfadhly hanya memberi pesan singkat. Bekerja dengan hati nurani dan tak berhenti setelah mendapat penghargaan. Menurutnya, bekerja dengan hati nurani tak perlu peliputan. Niat tulus dan ikhlas untuk berbagi akan memberikan kepuasan tersendiri dalam hati.

Selain menentukan mereka yang menduduki kepengurusan baru, agenda lain pada musyawarah Komunitas BONSAI adalah pengukuhan Standard Operational Procedure (SOP), penyampaian Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) kegiatan kepengurusan lalu, kilas balik satu tahun kegiatan, dan juga pembahasan rancangan kegiatan Komunitas BONSAI selanjutnya. Selain itu, seluruh anggota menyampaikan kesan dan pesannya terhadap Komunitas BONSAI beserta harapan ke depannya.

aaTentu saja inti dari regenerasi adalah menentukan ketua untuk periode baru; dia yang umpamanya ditinggikan seranting, untuk memimpin komunitas ini satu tahun ke depannya. Lalu, Renda Arianto lah yang dipercaya menggantikan Haris. Sama sekali tidak menyangka karena telah mendapatkan kepercayaan ini, diungkapkan oleh Renda. Memimpin Komunitas BONSAI untuk satu tahun ke depan, merupakan amanah dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan untuk lebih baik lagi. Selanjutnya Renda berharap agar Komunitas BONSAI tetap menampilkan ide-ide kreatif, inovatif serta terus bersinergi dan selalu berbagi dengan sesama. “Karena ilmu bukan seberapa banyak kita memperolehnya, namun seberapa banyak kita memberikannya,” ujar Renda, Minggu (20/11).

Setelah musyawarah ini, artinya bahtera Komunitas BONSAI dinahkodai oleh kepengurusan baru, namun semua anggota tetap berlayar bersama. Melanjutkan perjalanan pengabdian dan meninggalkan jejak dalam kreasi yang bermanfaat. Hingga tiba pada masanya nanti masing-masing untuk berlabuh, dan digantikan oleh awak BONSAI yang baru. Mengutip wejangan dari Ketua Komunitas BONSAI periode pertama, “Suatu saat nanti kita akan menyinggahi daratan yang berbeda, namun ingatlah kita pernah berada di kapal yang sama”. (TIM IT Komunitas BONSAI-Ranti Maretna Huri).


Tentang Fahmi Achta Pratama

Sang Musafir Yang Harus dan Terus Berjalan.

Lihat Juga

Menjaga Semangat Kebangkitan Umat

serambiMinang.com – Pergolakan kebangkitan umat Islam ini merupakan perkara yang sangat besar. Dimana setelah berpuluh …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: