Beranda / Surau / Pemikiran Islam / Barat dan Kebenaran

Barat dan Kebenaran

Kebenaran bagi kebanyakan orang timur, atau khususnya bagi masyarakat muslim bukanlah hal yang terlalu sulit untuk dipahami. Namun tidak dalam pemahaman barat dalam kebenaran. Selain kebenaran yang selalu berubah, bagi mereka makna kebenaran itu sendiri kabur.

Pada tahun 1970 an “homosexuality” adalah termasuk dalam klasifikasi penyakit jiwa (mental illness). Pada 1970 aktivis gay memprotes konvensi APA (American Psychiatric Association) di san fransisco, USA. Hingga pada 1971 mereka masih melakukan protes, namun karena memiliki kekuatan secara social dan politik akhirnya ini membuat APA menjadi resah. Dan pada tahun 1973 akhirnya dilakukan vote untuk mencabut klarifikasi homosexuality sebagai penyakit mental. Akhirnya homosexuality dihapus dari DSM II sebagai mental illness dengan “vote” dalam semalam dan tanpa pemikiran dan penelitian ilmiah.

Ini adalah cerita yang umum dalam sejarah psikologi di amerika serikat. Bagaimana homosexual yang awalnya adalah sebuah penyakit mental namun dengan tuntutan dan disahkan dengan vote maka kebenaran tersebut bisa berubah sesuai dengan keinginan masyarakat. Hal serupa juga pernah terjadi pada peraturan dan perubahan pandangan masyarakat amerika tentang minuman keras.

Ini hanya sebagian kecil gambaran bagaimana kebebasan yang dianut di barat. Semuanya bisa berubah tidak ada yang mutlak, bahkan kita sering dengar bahwa yang mutlak adalah perubahan. Dibarat tidak ada kebenaran yang mutlak, bahkan meskipun barat selalu mengklaim dirinya liberal tetap saja apa yang tidak sesuai dengan keinginan dan tujuan mereka maka tetap saja itu dilarang.

Baca :   Sekularis: Penghianat Jasa Para Pahlawan

Barat memang tidak mengenal kebenaran yang mutlak. Bahkan makna dari kebenaran itu sendiri kabur. Sehingga apa yang dulu di anggap benar bisa saja kedepannya itu dianggap salah. Begitu juga sebaliknya.

Barat memiliki pandangan ini bukan tanpa alasan. Dalam sejarahnya di barat pernah terjadi suatu masa yang disebut zaman kegelapan. Dimana kebeneran yang menjadi hak otoritas gereja ketika itu telah membawa trauma yang sangat mendalam bagi masyarakat eropa.

Ketika gereja menjadi ‘pemegang kekuasaan’ paska runtuhnya romawi, otoritas gereja menjadi pengendali roda kehidupan masyarakat ketika itu. Kekuasaan gereja ketika itu disebut sebagai wakil Tuhan di bumi (Teokrasi). Para pemimpin gereja diakui haknya untuk mengampuni dosa manusia ketika itu.

Dan pada masa hegemoni kekuasaam gereja inilah lahir sebuah institusi yang sangat terkenal kekejamannya, dikenal sebagai “Inquisisi”. dan gereja bersifat “infallible” yaitu tidak dapat salah. Inilah yang menjadi salah satu titik traumanya masyarkar barat dengan yang namanya ‘agama’.

Hingga ketika eropa melewati masa renaissance maka agama pun ketika itu dipinggirkan dan ‘di baratkan’. Trauma semacam ini terhadap gereja tidak habis disitu saja, bahkan trauma ini di alamatkan juga pada Islam. Meskipun Islam tidak pernah dalam sejarahnya mengalami kecacatan dalam hal tersebut.

Dan akhirnya makna kebenaran itu sendiri direduksi kedalam bentuk yang sesuai dengan keinginan masyarakat. Dan kaburlah makna kebenaran itu bagi barat.

 


Tentang Andri Oktavianas

Koordinator #IndonesiaTanpaJIL Padang

Lihat Juga

Aplikasi Gay Belum Diblokir, Ini Jawaban Kemenkominfo

serambiMINANG.com – AR, tersangka kasus prostitusi gay di Bogor yang terungkap beberapa waktu lalu, menggunakan …

Tinggalkan Balasan