Beranda / Berita / Serangkaian Skenario Melemahkan Umat Islam Era Presiden Jokowi

Serangkaian Skenario Melemahkan Umat Islam Era Presiden Jokowi

Tahun 2017 baru berjalan satu bulan, namun kezhaliman dan serangan kepada islam dan umat islam sudah begitu bertubi-tubi. Ulama, para da’i, aktivis-aktivis, dan kalangan umat islam yang bersuara hampir semua “dipolisikan”, bahkan difitnah dengan tuduhan murahan seperti tuduhan “esek-esek”.

Serangan dan scenario untuk melemahkan umat Islam dan keislamannya sebenarnya bukan barang baru. Akan tetapi ini telah terjadi bahkan seperti suatu yang telah menjadi sebuah “system”

Islam mendapat sikap permusuhan dan pertentangan sudah dari sejak embrionalnya. Namun yang kita bicarakan sekarang adalah khusus kepada semakin gencarnya “serangan” terhadap umat Islam Indonesia khususnya di era pemerintahan presiden jokowi entah itu terkait atau tidak. Tapi yang jelas sejarah telah mencatat berbagai upaya, sikap dan tindakan pemerintah yang menyudutkan umat Islam.

  1. Legalisasi Aliran Sesat

Kita berangkat dari tahun 2014 ketika kementrian agama dibawah menteri Lukman hakim saepudin mengundang aliran-aliran sesat seperti yang dikutip dari republika.co.id

“Kementerian Agama menggelar dengar pendapat dengan kelompok minoritas pada Selasa (15/7) di Jakarta. Acara ini dihadiri sejumlah kelompok keyakinan, di antaranya, Pegiat Agama Maumalim atau Parmalim, Ahlul Bait Indonesia, Majelis Bahai Indonesia, Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika, Masyarakat Sunda Wiewitan, Jamaah Ahmadiyah Indonesia, dan Gerakan Ahmadiyah Indonesia.

Selain itu, hadir para aktivis toleransi keberagamaan, di antaranya, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Wahid Institut dan Gusdurian. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengungkapkan, negara memiliki kewajiban untuk melayani seluruh masyarakat, termasuk komunitas beragama.”

Sikap menteri agama yang seolah “menafikan” adanya yang disebut aliran sesat mengatakan tentang upaya legalisasi ‘aliran sesat’ tersebut.

2. Intoleransi

Selanjutnya tentang ungkapan menteri agama yang sebenarnya cacat dari segi logika yaitu agar orang yang berpuasa menghormati orang yang tidak berpuasa. Sehingga ungkapan ini sangat menyinggung ketentraman beribadah umat islam. Tapi tidak ada tanggapan yang begitu berarti dari menteri agama (LHS)

Pada kasus warung nasi ‘ibu saeni’ (2016) media-media mainstream yang tidak bertanggung jawab begitu mem ‘blow up’ berita ini ke permukaan dengan kesan ‘intoleransi’. Bahkan presiden yang seharusnya menjadi solusi untuk ketentraman ini pun tidak mengambil sikap yang menentramkan, bahkan justru ikut-ikutan dalam ‘sinetron’ ibu saeni.

3. Pmebakaran Mesjid Tolikara

Pada tahun 2015 bulan syawal 1436 Hijriah, ketika seluruh umat muslim merayakan hari kemenangan, hari raya idhul fitri yang hampir serentak dilaksanakan di Indonesia. Namun hal yang memilukan justru terjadi di hari raya Idhul Fitri ini. Umat muslim di Tolikara dilarang oleh Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) secara sepihak, dan di ‘biarkan’ oleh pihak berwenang (Pemerintah, Polres) dengan tembusan surat pelarangan yang terdapat dalam surat pelarangan tersebut. Hingga pada puncaknya terjadi pembakaran mesjid dan rumah warga ketika pelaksanaan ibadah shalat idhul fitri di tolikara tersebut.

Hal yang mengherankan adalah tanggapan yang berbeda terhadap kasus yang mau tidak mau sudah mengatas namakan ‘agama’, Gereja Injili Di Indonesia (GIDI). Pelaku yang terkait kasus ini justru malah mendapat undangan dating ke istana. Bukankah ini kekerasan atas nama agama?? Bahkan melanggar kebebasan beragama yang terdapat dalam uud 1945 pasal 29 ayat 2.

Hal yang lebih tidak terpuji dilakuakan oleh tempo.co yang membuat judul pemberitaan “semua korban adalah jemaah GIDI”. Pertanyaan yang paling mendasar adalah, ada kepentingan apakah media-media sebesar metronews.com dan tempo.co dalam membuat pemberitaan seperti ini? Bahkan hal ini menambah catatan metro sendiri sebagai media massa nasional dalam pemberitaan yang menyudutkan Islam.

Beberapa tanggapan yang syarat akan pembelaan terhadap GIDI ataupun penudingan yang kebablasan juga muncul dari tokoh yang menamai dirinya cendekiawan bahkan wakil presiden Jusuf Kalla tak mau ketinggalan.

Kordinator Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar dalam akun twiternya menyatakan kesinisannya “jangan hanya protes saat rumah ibadah kita diganggu tapi diam saja saat rumah ibadah milik umat atau sekte lain diganggu

Sementara wakil presiden Jusuf Kalla (JK)  dengan latahnya menyebutkan bahwa penyerangan ini terjadi karena pemakaian speaker yang mengganggu. Perkataan JK ini terkesan ASBUN (asal bunyi) karena secara fakta dilapangan, warga muslim Tolikara tidak menggunakan speaker.

4. Penistaan Agama ‘yang dilindungi’

Penistaan agama oleh ahok yang berujung berkasusnya hampir ‘setiap’ ulama, tokoh, aktivis yang ‘berseberangan’ dengan penista agama tersebut.

Baca :   Istiqomah dan Taat Kepada Panglima

Penistaan agama yang dilakukan oleh ahok pada tanggal 27 september 2016 di kepulauan seribu ini telah mengundang kemarahan umat Islam dan dilaporkannya penista agama tersebut ke kepolisian. Namun pihak kepolisian terkesan lambat dan tumpul terhadap kasus ahok ini. Sehingga terjadilah aksi bela Islam satu, dua, dan tiga.

Jutaan umat islam dari berbagai pelosok negeri hadir di Jakarta dalam aksi bela Islam tersebut. Namun sangat disyangkan pada aksi bela Islam 4 november 2016 bahkan presiden Jokowi lebih mementingkan hal yang remeh temeh dari pada ditemui oleh jutaan rakyatnya. Sikap tidak bijak  yang melukai hati umat Islam inipun ditambah lagi dengan pidato jokowi tentang aksi bela islam ‘ditunggangi’ kepentingan politik, namun tidak jelas kepentingan siapa dan apa buktinya.

Selanjutnya karena tidak kunjung mendapat kepastian hokum terhadap Ahok, maka umat Islam kembali megadakan aksi bela Islam jilid 3 yang berpusat di MONAS. Konon sekitar 7 juta masa memadati Jakarta yang titik aksinya berpusat di MONAS.

Namun lagi-lagi dari pihak pemerintahan, terutama kepolisian ‘meluncurkan’ tuduhan makar  kepada umat Islam. Bahkan lewat akun Facebook Humas Mabes POLRI berbagai provokasi muncul, terlihat ketidak berimbangan pihak kepolisian. Namun tanpa malu Jendral Tito ikut berorasi di aksi bela Islam jilid 3 tersebut.

Hal yang cukup memprhatinkan adalah begitu tumpulnya hokum terhadap seorang ahok. Bahkan sampai hari ini ahok tetap bebas berkeliaran. Dan dalam wawancara dengan pihak al Jazeera ahok mengaku tidak menyesal terhadap ungkapannya di kepualauan seribu.

  1. Diskriminalisasi Habib Rizieq Shihab, FPI, beserta ormas-ormas Islam dan Tokoh-tokoh Islam.

Habib Rizieq bau saja ditetapkan sebagai tersangka, tidak lama berselang setalah pemeriksaan oleh pihak kepolisian. Hal ini jelas berbeda dengan lamanya Ahok ditetapkan menjadi tersangka sehingga timbul ke ‘gaduhan’ yang bersifat nasional. Tentu ini telah melanggar sila ke 3 persatuan Indonesia. Ahok telah menimbulkan kegaduhan karena kata-katanya yang menghina para ulama dan agama Islam.

Dalam proses pengkasusan HRS ini tejadi banyak fitnah. Apakah dari pemerintah, media, ataupun dari kalangan akar rumput.

Sekarang begitu gencarnya fitnah yang dilancarkan kepada HRS dengan tuduhan ‘esek-esek’. Sebelumnya ada tuduhan pengeroyokan anggota GMBI oleh FPI, padahal fakta dan bukti berbicara sebaliknya. Anehnya dibalik kejadian ini bersemayam juga kapolda jabar Anton C (Pembina GMBI).

Bahkan POLRI yang harusnya bersikap netral malahan menggalang dukungan masyarakat dengan kesan pembubaran FPI.

Ini hanya beberapa gambaran singkat dan umum tentang sekenario melemahkan posisi umat Islam di Indonesia yang telah menjadi ‘sejarah’. Masih banyak kasus selain yang disebutkan di atas. Seperti penangkapan siyono yang ‘ditewaskan’ oleh kepolisian, pembacaan Al Qur’an langgam jawa, acara aliran sesat syiah di kementrian agama, sambutan baik untuk kerjasam dengan pihak iran oleh menteri agama dll.

Sementara dalam hal media hampir setiap ‘kasus’ yang berhubungan dengan Islam medi-media mainstream yang ‘anti’ Islam sangat gencar menggiring opini masyarakat. Bahkan beberapa media tersebut di usir ketika hendak meliput aksi bela Islam.

Sampai sekarang dan tentu tidak akan pernah berhenti permusuhan kaum kafir dan munafik terhadap umat Islam tidak akan selesai. Kita tidak perlu berlebihan menanggapi orang-orang yang mengaku beragama Islam tapi hari ini satu barisan dengan orang-orang kafir dan musuh-musuh Allah lainnya. Bahkan dizaman nabi mereka juga terlibat dalam hal yang lebih keji lagi.

Sebagaimana firman Allah dalam surat Ash Shoff ayat 8 “Mereka hendak memadamkan cahaya agama Allah dengan mulut mereka, tapi Allah tetap menyempurnakan cahayaNya meski orang-orang kafir membencinya.

“Tidak pernah ridho orang-orang yahudi dan nashrani sebelum engkau mengikuti agama mereka…” (Al Baqarah ayat 120)

Bahkan hari ini fitnah begitu banyak dari satuan kafir dan munafik. Namun barangkali itu baik bagi umat muslim agar terpisah yang baik dari yang buruk. Dan menjadi momen persatuan umat Islam.

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu (juga). Jangan lah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu bahkan itu baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Dan barangsiapa diantara mereka mengambil bagian terbesar (dari dosa yang diperbuatnya), dia mendapat azab yang besar (pula) . – QS An Nuur ayat 8”

Allahu taala a’lam

 

 


Tentang Andri Oktavianas

Koordinator #IndonesiaTanpaJIL Padang

Lihat Juga

Ternyata Ini Isi Kontrak Politik PPP Yang Telah Di Setujui Ahok

serambiMINANG.com – Ketua Umum PPP munas Jakarta, Djan Faridz mengakui, dukungan yang digelontorkan kepada pasangan …

Tinggalkan Balasan