Beranda / Opini / Ahok: Tirani Asing di Tanah Ibu Pertiwi

Ahok: Tirani Asing di Tanah Ibu Pertiwi

Dalam waktu dua tahun Ahok menjadi gubernur pengganti Jokowi betul-betul telah menampakan (lagi) keserakahan asing nan Tirani di tanah Ibu Pertiwi. Gusuran-demi gusuran, tai demi tai, tolol demi tolol, bego demi bego menjadi senjata pamungkasnya kepada anak ibu pertiwi yang menjadi tuan rumah di tempat Ahok bertamu sembari membantu jadi gubernur –Ibu kota.

Sejarah sudah mencatat bagaimana asing seperti ahok selingkuh dengan penjajah. Dan bekas sejarah itu bahkan terlihat secara secara sosial di tengah-tengah masyarakat. Dahulu di Pariaman orang-orang sejenis ahok dibantai oleh rakyat, sedang hak milik mereka dicabut akan tanah di atas tanah Ngayogyakarta. Dan hari ini muncul lagi dengan nama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok

Ahok betul-betul agresif dan tidak sabaran, menunjukan ke Tirani-anya begitu cepat, padahal dia belum menjadi dan berbuat apa-apa bagi negeri ini. Ketidak respekannya pada manusia-manusia asli negeri betawi seolah menunjukan bahwa dia tidak menaruh hati pada ‘rakyat’nya sendiri.

Lalu bagaimana mungkin pemimpin yang melayani rakyat tidak memakai naluri? Maka pasti akan banyak warga yang akan tersakiti.

Kita melihat dengan mata kepala kita sendiri di setiap sudut ibukota rakyat menjadi korban penggusuran, padahal nenek moyang mereka telah mendiaminya bahkan sebelum kakek Ahok merantau dari cina ke Indonesia. Ahok benar-benar tidak sanggup mencintai, sedangkan cinta adalah modal utama keikhlasan pemimpin dalam melayani rakyatnya.

Tirani kata Anis Matta selalu bermula dari sana: saat seorang atau sekelompok orang atau sebuah kezhaliman atau sebuah rezim kehilangan respek dan penghargaan kepada orang lain atau kelompok lain, atau rezim lain. Ketika respek dan penghargaan itu hilang, persepsi kita beralih ke dalam, ke dalam dirinya , sang Aku.

Baca :   Adakah Media Yang Objektif ??

Maka tidak lagi kita heran-heran melihat dan mendengar Ahok “satu republic ini akan saya lawan!!” atau yang lebih parah lagi mau men-tiran-kan Tuhan “Tuhan pun akan saya lawan!!”

Dalam konteks seperti ini, yang merasa “aku” akan menganggap diluarnya adalah sesuatu yang tidak layak, bahkan masuk dalam ranah mengancam eksistensinya.

Tirani, momok besar dalam sejarah manusia ini selalu berkoalisi dengan kekuasaan. Saat itu ia akan menjadi kekuasaan yang melegitimasi. Maka akan muncul istilah-istilah aneh ketika kejahatannya mulai tercium “ahok tidak punya niat”, atau “ahok bukan tokoh utama”.

Ahok betul-betul telah menunjukan tirani sebelum kuasa jatuh di tangannya, sementara itu belum dapat tirani dibaliknya tentu lebih besar. Bahkan orang nomor satu di negeri ini dengan ‘Tiran’nya mengatakan bahwa aksi umat Islam ditunggangi kepentingan politik, hebatnya adalah perkataan ini diluncurkan tanpa fakta tanpa data.

Keluh kesah tentu bukan cara kita yang beriman. Tapi mengambil hikmah dari yang sudah adalah kemestian sebagai wujud Iman. Barangkali Allah hendak membersihkan kita dari yang kotor. Dan menjadikan pengganti yang lebih baik.

Allahu ta’ala a’lam


Tentang Andri Oktavianas

Koordinator #IndonesiaTanpaJIL Padang

Lihat Juga

Serangkaian Skenario Melemahkan Umat Islam Era Presiden Jokowi

Tahun 2017 baru berjalan satu bulan, namun kezhaliman dan serangan kepada islam dan umat islam …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: