Beranda / Opini / Menjaga Semangat Kebangkitan Umat

Menjaga Semangat Kebangkitan Umat

serambiMinang.com – Pergolakan kebangkitan umat Islam ini merupakan perkara yang sangat besar. Dimana setelah berpuluh tahun lamanya tidak lagi terlihat bagaimana kekuatan umat Islam yang bersatu atas dasar semangat keIslamannya. Hal ini tentu harus disambut positif.

Pertengahan tahun 2016 pergerakan umat Islam Indonesia mulai terasa semakin bergeliat, bangkit menuju persatuan, terkhusus ketika Islam yang telah menjadi darah daging (fitrah) mereka dihina oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Hari demi hari semakin banyak umat yang terpantik nuraninya, semakin banyak umat Islam negeri ini yang terbakar ghirahnya. Ditambah dengan sikap yang cendrung tumpul terhadadap Ahok oleh pemerintah, akhirnya umat Islam melakukan aksi damai. Yang terbesar adalah yang dilaksanakan pada tanggal 2 Desember 2016 atau yang lebih dikenal dengan aksi bela Islam 212 yang dihadiri lebih dari tujuh juta kaum Muslimin.

Tidak dipungkiri memang akan adanya kekurangan dari kebangkitan ini, namun kekurangan yang ada tentu tidak kalah pentingnya dengan persatuan umat Islam. Sebagaimana sikap baginda Rasulullah sholallahu alaihi wasallam

“Kalau bukan karena kaummu yang baru saja meninggalkan kekufuran, akan kurombak Ka’bah dan kubangun di atas pondasi Ibrahim. Sebab, dulu orang-orang Quraisy mempersempitnya saat mereka membangunnya. Dan aku akan membuatkannya pintu belakang”. [HR. Muslim]

Sebagian dari kaum muslimin yang belajar Islam atau yang menjadi aktivis dakwah  lebih merasakan bagaimana gejolak semangat keIslaman begitu terasa. Gerakan sholat shubuh berjamaah dimana-mana, pengajian-pengajian semakin banyak. Tapi kita juga perlu menyadari bahwa perbandingan majelis-majelis kantong-kanttong untuk menampung dan menggaet semua yang bergejolak itu masih jauh dari cukup. Namun semangat keIslaman yang muncul juga tidak boleh dibiarkan lewat dan hilang begitu saja, justru harus dijaga. Seperti yang dicontohkan Rasulullah sholallahu alaihi wasallam yang menunda perenovasian ka’bah untuk menjaga orang-orang yang baru tersentuh cahaya Islam.

Sebagian kalangan yang ikut dalam pergolakan kebangkitan umat hari ini banyak juga dari kalangan yang bukan aktivis dakwah dan bukan orang yang sering hadir di majelis-majelis tempat Islam di ajarkan. Banyak di antara mereka yang hanya tersentuh karena hanya memperhatikan berita-berita kebangkitan Islam dari media-media yang ada. Bahkan mereka yang tak pernah mendengar siraman rohani sekalipun ketika mendengar aksi untuk membela agamanya yang dihina ada di antara mereka yang lansung larut dalam semangat pergolakan umat ini.

Baca :   Pentingnya Berjihad dengan Tulisan

Seiring berjalannya waktu muncul kabar-kabar yang sebenarnya tidak penting dibandingkan menjaga ghirah umat yang telah terbakar. Sebagian tekesan melemahkan, sebagian berupa kritik. Saran dan kritik memang merupakan hal yang sangat penting untuk keberlansungan perjuangan umat, namun berita gembira tentang janji Allah terhadap mereka yang baru tercerahkan hatinya adalah lebih utama.

Bahkan beliau sholallahu alaihi wasallam ketika Abu Musa Al Asy’ari dan Mu’adz bin Jabal hendak di utus ke Yaman memberi wasiat untuk membuat gembira dan tidak mempersulit. Hanya beberapa kata “Permudahlah dan jangan mempersulit, buatlah senang jangan membuat lari” [HR. Bukhari].

Sebagaimana Allah membalas satu kebaikan yang dilakukan oleh orang beriman dengan sepuluh kali lipatnya, sedangkan Allah hanya membalas kejahatannya dengan yang setimpal. Maka logikanya satu  kebaikan umat ini tidak pantas dibandingkan dengan satu keburukan yang sebanding. Apalagi kebaikan yang hadir dikalangan umat ini begitu besar jika hanya dilemahkan dengan kesalahan yang hanya bersifat remeh temeh.

Syaikh Abdullah Azzam mengutip nasehat yang diberikan Muhammad Khalifah;

“Saudaraku sekalian, sebarkanlah kebaikan dari saudara kalian. Jangan menyiarkan aib mereka, sehingga hati kalian menjadi rusak terhadap sebagian yang lain dan membuat mandek perjalanan kalian. Menyebarkan kebaikan saudara dapat menumbuhkan mahabbah di antara kalian, memperkuat tali persaudaraan, dan mendorong perjalanan kalian kedepan. Sebaliknya, menyebarkan aib aka merusak barisan, menghentikan perjalanan, dan membuatlemah semangat beramal”.

Selain menjaga barisan dengan menahan lisan, kita juga tidak boleh lengah siapa yang hendak kita ikuti. Dalam pergerakan umat yang besar ini lihatlah dimana orang-orang yang sholeh berkumpul. Jelilah melihat dimana barisan kaum muslimin. Dan berilah berita gembira kepada sesama kaum Muslimin, seperti judul buku yang di tulis oleh Sayyid Quthb “Al Mustaqbal Lihadzad Din”, Masa Depan di Tangan Islam.

Allahu Ta’ala A’lam.


Tentang Andri Oktavianas

Koordinator #IndonesiaTanpaJIL Padang

Lihat Juga

Irwan Prayitno Tegas Tolak Bakar Lilin Untuk Ahok di SUMBAR

serambiMINANG.com – Irwan Prayitno tegas tolak aksi bakar lilin untuk ahok di SUMBAR. Dalam cuitannya …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: