Beranda / Opini / Terlalu Cepat Menyimpulkan

Terlalu Cepat Menyimpulkan

serambiMINANG.com – Saat kita berinteraksi dengan orang lain didalam sebuah lingkungan, apakah itu di organisasi, dikampus, disekolah, bahkan ditengah-tengah masyarakat. Kita akan dihadapkan terus oleh berbagai dinamika, kenapa? karena kita adalah makhluk sosial yang hidup bersama-sama dengan orang lain. Ada saatnya kita dibutuhkan, dan adakalanya kita membutuhkan, dan yang pasti kita akan terus beriteraksi serta berkomunikasi dengan orang-orang yang ada disekitar kita.

Salah satu diantara penyebab dinamika yang terjadi saat berinteraksi dengan orang lain adalah prasangka. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), prasangka adalah pendapat atau anggapan yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui dan menyaksikan serta menyelidiki sendiri. Kalau kita melihat pengertiannya tersebut, berarti ada yang menjadi subjek kemudian ada yang menjadi objek. Subjeknya Adalah seseorang yang berprasangka, lalu objeknya bisa dalam bentuk sebuah perkara atau orang lain.

Jadi, artinya orang yang berprasangka maka orang tersebut sedang beranggapan kurang baik terhadap sesuatu hal atau orang lain, padahal anggapan-anggapan tersebut masih sebatas hipotesa atau dugaan sementara yang belum pasti kebenarannya. Sadar atau tidak kita pasti pernah atau akan menjadi subjek yang akan berprasangka bahkan menjadi objek prasangka. Apa penyebabnnya? karena kita terlalu cepat meyimpulkan, padahal ada dua bab yang telah terlewati. Apa saja yang telah terlewati itu? jawabannnya ada didalam sebuah makalah. Oleh karena itu kita akan menghubungkan persoalan prasangka ini dengan sebuah makalah.

Didalam sebuah makalah, susunan paling atas dimulai dari cover, kemudian kata pengantar, daftar isi, bab satu pendahuluan, bab dua pembahasan, bab tiga penutup, dan diakhiri dengan daftar referensi. Pertanyaannya, kenapa harus cover terletak pada susunan paling atas didalam sebuah makalah? jawabannya, karena didalam cover sendiri terdapat identitas sebuah makalah. Judul yang akan dibahas didalam sebuah makalah dan nama penulis terdapat didalam sebuah cover. Nah, Jika judul sebuah makalah adalah metode belajar siswa problem based learning, maka sudah dapat dipastikan semua isi makalah tersebut mengarah kepada metode belajar problem based learning.

Kemudian bagian kedua dari sebuah makalah sesudah cover adalah kata pengantar yang berisi ucapan-ucapan penulis setelah seleseinya makalah dibuat. Setelah kata pengantar, selanjutnya daftar isi. Didalamnya terdapat judul bab, sub bab beserta nomor halaman. Tujuannya agar kita sebagai pembaca lebih mudah untuk mencari topik atau materi yang dibahas didalam makalah. Setelah daftar isi, barulah masuk kedalam bab satu yaitu pendahuluan. Didalamnya terdapat sub bab seperti latar belakang, rumusan masalah, dan tujuan.

Latar belakang yang terletak di awal dari bab satu pendahuluan merupakan informasi atau data yang menjadi bahasan didalam makalah tersebut. Sedangkan rumusan masalah adalah pertanyaan-pertanyaan, yang mana jawaban dari pertanyaan tersebut merupakan pembahasan dari sebuah makalah. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan membagi bab pembahasan menjadi beberapa sub bab. Bagian terakhir dari bab satu pendahuluan makalah adalah tujuan, yang mana tujuan ini akan menjawab pertanyaan dari rumusan masalah. Poin-poin dari tujuan tersebut merupakan tujuan dari tiap-tiap sub bab yang ada didalam bab pembahasan.

Jika kalimat pada pada tujuan masalah dalam bentuk pertanyaan, maka didalam tujuan, kalimat pertanyaan tersebut akan berubah. Contohnya, jika poin pertama dalam rumusan masalah adalah “Apa itu metode belajar problem basic learning?”, maka poin pertama dari tujuan adalah “Untuk mengetahui pengertian dari metode belajar problem basic learning”. Sebenarnya kalau kita perhatikan benar, antara rumusan masalah dan tujuan tidak jauh berbeda redaksinya dan perbedaanya hanya terletak pada jenis kalimat yang digunakan. Rumusan masalah menggunakan pertanyaan sedangkan tujuan tidak.

Selanjutnya adalah bab dua pembahasan, bab ini merupakan bagian inti dari sebuah makalah. Didalamnya terdapat jawaban-jawaban dari rumusan masalah, yang mana jawaban-jawaban tersebut merupakan isi sub bab atau materi yang dibahas didalam makalah. Materi-materi tersebut bisa seperti teori-teori, penelitian, solusi-solusi yang ditawarkan, kemudian bahasan-bahasan lebih mendalam tentang masalah yang sedang dibahas didalam makalah tersebut.

Kemudian setelah bab dua pembahasan, didalam sebuah makalah terdapat bab tiga yaitu penutup, didalam bab ini terdapat dua sub bab yaitu kesimpulan. Sub bab kesimpulan merupakan tulisan dari penulis yang menyimpulkan dari seluruh pembahasan makalah tersebut dan sub bab selanjutnya adalah saran, yang merupakan harapan penulis untuk memberikan saran kepadanya agar makalah tersebut menjadi lebih baik lagi. Terakhir setelah bab tiga penutup terdapat daftar referensi yang merupakan daftar sumber informasi yang kita gunakan untuk mendukung pembahasan makalah kita, sumber informasi tersebut bisa berupa buku-buku atau web terpercaya dari internet.

Setelah kita mengetahui bagian-bagian makalah, maka dari itu mari kita hubungkan dengan prasangka yang menjadi poin penting didalam pembahasan kita kali ini. Diawal kita sudah membahas tentang prasangka, yang mana prasangka ini merupakan salah satu penyebab dinamika sosial yang terjadi dilingkungan kita. Nah, Ketika kita menghadapi sebuah masalah, ketika kita berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lama maupun baru, bahkan menanggapi masalah orang lain, asumsi-asumsi negatif terkadang muncul dipikiran kita yang akan menjadi sebuah prasangka.

Ketika mendapatkan sebuah masalah, kita tau dan yakin itu masalah bagi diri kita. Namun, yang ada didalam pikiran kita, masalah tersebut sangatlah besar dan berat untuk diseleseikan. Kenapa ini bisa terjadi? karena kita terlalu cepat menyimpulkan, padahal ada dua bab yang telah terlewati. Bab satu pendahuluan, yang mana kita akan menjawab pertanyaan-pertanyaan, kenapa ini bisa terjadi? Apa penyebabnya? Apa sebenarnya masalah yang saya hadapi?. Kemudian pada bab dua pendahuluan akan lahir pertanyaan-pertanyaan yang mesti kita jawab, Apa solusinya? Langkah-langkah yang harus saya lakukan untuk menyeleseikan masalah tersebut?. Baru setelah itu kita dapat menyederhanakan masalah tersebut dengan sebuah kesimpulan.

Dalam berinteraksi dengan orang lain, pertama ketika baru bertemu dengan orang yang baru dikenal. Terkadang cover akan menjadi poin utama didalam penilaian seseorang, padahal didalam sebuah makalah, cover tidak mendapatkan bobot yang tinggi, sehingga penentuan nilai seseorang tidak bisa dinilai dari cover, melainkan dari pembahasan yang merupakan isi dan inti dari sebuah makalah, isi dan inti inilah yang akan kita pelajari dari diri seseorang, karena kalau belum kita ketahui bagaimana diri seseorang, kita tidak dapat langsung menyimpulkan. Begitu juga dengan orang yang sudah lama kita kenal, karena kita belum bisa langsung membuat sebuah kesimpulan.

Dan ketika kita menanggapi masalah seseorang, kita juga belum dapat langsung menuju ke bab penutup yaitu kesimpulan dan saran. Karena ada dua bab yang mesti kita lakukan, bab satu pendahuluan dan bab dua pembahasan. Dengan begitu prasangka-prasangka yang muncul akan mudah kita hindari. Dengan adanya bab-bab tersebut, kita dapat menyeleseikan semuanya tanpa prasangka dengan tenang dan sistematis. Kemudian dinamika sosial yang terjadi seperti konflik, pertengkaran, dapat kita hindari. Karena memang, ada saatnya dibutuhkan, dan adakalanya kita membutuhkan, Mari kita mempelajari berbagai karakter yang ada pada teman-teman kita disekolah, dikampus, di organisasi, sebelum hal-hal tersebut dapat menjadi penyebab tidak produktifnya kita disana. Mari mempelajari sebuah masalah sebelum menyelesaikannya, karena kita belum dapat menyimpulkannya sebelum singgah di bab satu pendahuluan dan bab dua pembahasan.


Tentang Fahmi Achta Pratama

Sang Musafir Yang Harus dan Terus Berjalan.

Lihat Juga

Ketika Keimanan Diuji Dengan Prasangka

sudah pasti tidaklah mudah mengerjakan hal besar dengan tubuh yang sangat lemah ini. Do’a kepada …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: