Beranda / Surau / Pemikiran Islam / LGBT: Antara Kebebasan Individu dan Makhluk Sosial

LGBT: Antara Kebebasan Individu dan Makhluk Sosial

Image: REUTERS/Cathal McNaughton TPX IMAGES OF THE DAY – RTX1E7LD

“Saya pikir negara mencampuri urusan pribadi terlalu jauh, ini adalah intervensi yang berlebihan. Diamana Negara mengatur kita sampai ke kamar tidur, sampai kepada siapa kita boleh melakukan sex, buat saya itu adalah penjajahan” Cania Citta pada ILC senin (19/20)

Dalam perjalanan ‘pemasaran’ LGBT baik di tanah air ataupun dinegara-negara di dunia, kebebasan pribadi seperi yang di ungkapkan oleh cania citta ini lumrah terjadi.

Setidaknya ada dua makna kebebasan bagi mereka. Bebas dari dan bebas untuk. Bebas dari maksudnya ialah yang menampik segala bentuk aturan dan batasan agama, tata susila, hokum dan undang-undang bahkan pendidikan karena semuanya dinilai merampas kebebasan. Jenis kedua adalah bebas untuk. Maksudnya adalah setiap orang boleh menentukan sendiri apa yang hendak ia lakukan. Begitu kata Isaiah Berlin dalam Two Concepts of Liberty.

Barangkali bagi kebanyakan orang mendengar dengungan-dengungan kebebasan ini seolah indah sekali, tetapi sangat sukar dan membingungkan untuk memaknainya dalam kehidupan nyata manusia.

Bahkan Thomas Lickona (penulis buku pendidikan karakter) sampai kebingungan menjawab apakah aborsi merupakan hak kebebasan seorang ibu ataukah pelanggaran atas hak hidup anak.

Ini seperti orang yang kencing di tempat umum di tengah keramaian, lalu orang-orang memarahinya, mencegah atau melarangnya. Siapakah yang salah? Apakah orang yang mencegah atau melarang karena tidak menghargai kebebasan individu atau orang yang kencing karena merusak hak orang lain untuk fasilitas umum?

Maka kebebasan indovidu yang berlebihan menjadi absurd menjawab pertanyaan seperti ini.

Pada dasarnya sangat sedikit sekali yang benar-benar menjadi urusan  ‘pribadi’ bagi manusia. Sebagian besar hidup manusia di dunia berin teraksi dan berbaur satu sama lain.

Zoon Politicon berarti hewan yang bermasyarakat. Aristoteles mengatakan bahwa menusia dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain, sebuah hal yang membedakan manusia dengan hewan. Maka disinilah adanya nilai-nilai yang mengatur, bukan untuk menjajah. Karena freedom (kebebasan) memang tidak menjadi momok bagi masyarakat Indoensia, tapi yang menjadi masalah adalah ‘semua boleh’, ini yang kebablasan.

Bagi umat muslim, makna kebebasan itu adalah fitrah; yaitu tabiat dan kodrat asal manusia pada saat dilahirkan, masih suci dan bebas dari noda kemaksiatan, maka bebas disini adalah hidup selaras dengan fitrahnya. Kedua adalah daya (istita’ah), kehendak (masyi’ah) dan keinginan (iradah); yaitu bebas memilih jalan hidup masing-masing, tapi Allah dalam Al Qur’an juga menjelaskan konsekuensi jalan yang dipilih apakah itu iman atau kafir. Terahir makna kebebasan adalah ikhtiyar yaitu memilih yang baik. Bahkan menurut Syed Muhammad Naquib al Attas, sesuai akar katanya, ikhtiar menghendaki pilihan yang tepat dan baik akibatnya. Maka orang yang memilih keburukan , kejahatan, dan kekafiran itu sesungguhnya menyalahi arti kebebasan

Maka ketika masyarakat yang mayoritas Muslim ingin melindungi anak, keluarga, dan saudara-saudaranya dari bahaya LGBT, maka itu tidaklah berlebihan dan wajar-wajar saja. Dan tidak satupun makna kebebasan yang dicederainya.

Sebenarnya argument yang berbau agama ini ditolak oleh pengusung LGBT dengan dalih kebebasan ini, karena mereka sendiri memang menolak ‘tunduk’ pada agama. Tapi perlu dicatat pada saat yang sama, pemikiran, gagasan yang mereka peroleh merupakan hasil dari mereka belajar pada pemikir-pemikir barat lalu menjadikannya pegangan bagi hidup mereka.

Kesimpulannya mereka tunduk pada pemikiran barat, kita tunduk pada sang Pencipta kita.

Baca :   Inilah Beberapa Ajaran Talmud Yang Akan Membuat Kita Terbelalak

Tentang Andri Oktavianas

Koordinator #IndonesiaTanpaJIL Padang

Lihat Juga

“Menjadi diri sendiri”, Teori Tabularasa (John Locke) dan Fitrah Manusia

serambiMINANG.com – “ Menjadi diri sendiri ”, kata-kata ini seolah menjadi sandaran setiap remaja yang …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: