Beranda / Tarbawi / Jangan Sampai Hilang, Pewarisan Tarbiyah

Jangan Sampai Hilang, Pewarisan Tarbiyah

serambiminang.com – Usia perjalanan dakwah tarbiyah di Indonesia boleh dikatakan tidak lagi muda. Dimulai pada masa ‘80-an hingga saat ini dakwah tarbiyah telah menghasilan kader-kader dakwah yang ikhlas berjuang dari sabang sampai dengan merauke.

Dakwah inipun telah banyak pula “ditinggal” kader-kader terbaiknya, mulai dari alm. ust Rahmad Abdullah, alm. ust Taufik Ridlo, ustdz Yoyoh Yusroh, dan banyak kader terbaik lainnya yang tidak akan selesai disebut karena mereka tersebar di Nusantara.

Kepergian para kader terbaik dakwah tarbiyah tentunya tidak hanya memberikan kesedihan atas kehilangan seseorang tapi juga kehilangan sebuah pewarisan peradaban. Pewarisan peradaban yang selalu memberikan kekokohan dalam menjalani dakwah, baik dalam keadaan susah maupun sulit dan dalam keadaan lapang maupun sempit.

Kepergian mereka, tidak hanya menghilangkan jasad namun juga ilmu-ilmu bermanfat yang belum sempat selesai ditransferkan kepada kita para penerus perjuangan dakwah tarbiyah. Tentunya kita para generasi penerus, takut atas apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah saw dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh imam Bukhori, bahwa Allah swt menghilangkan ilmu tidak dengan sekali proses namun dilakukan dengan cara bertahap dan tahapan itu dengan cara mewafatkan para ulama. Dan ketika mereka tidak lagi ada di tengah-tengah kita, yang tersisa hanyalah orang-orang yang berfatwa tanpa ilmu.

Baca :   Cahaya Yang Meredup

Maka dalam hal ini misi pewarisan dalam dakwah tarbiyah tentunya tidak boleh kita pandang sebelah mata. Perjalanan dakwah tarbiyah yang terus berkembang membutuhkan sebuah pewarisan peradaban yang tentu saja akan menjadi sebuah pengokohan bagi kader-kader dakwah kedepannya yang bisa dipastikan pikulan beban dakwah juga akan semakin berat.

“Membangun mekanisme pewarisan seorang guru memang lebih sulit dari menangisi kepergiannya. Ada sedih bersama tangis. Tapi ada sepi bersama pewarisan yang belum selesai. Apapun, kami berharap, kami telah berupaya. Setidaknya memulai. Agar jangan lagi ada guru, panutan, yang tak punya kesempatan untuk mewariskan kebesarannya. Lantaran para muridnya tak sempat mencatat nasehat-nasehatnya. Atau lantaran para kadernya, tak punya waktu untuk merenungkan pahatan-pahatan pikiran sang gurunya, dalam lembar-lembar kertas yang terliat kusam. Padahal itu ditulis di antara rintihan sakit dan kepenatan yang tak kenal jeda.” (kata pengantar, Warisan Sang Murabbi, Pilar-Pilar Asasi).

Jangan sampai hilang, dan wariskanlah sebuah kebesaran pada kami dimana fitnah yang lebih banyak menemani.

Abu Faguza Abdulla
Bandung, 22 Juli 2018


Tentang Abu Faguza Abdullah

Merangkai Kata Memuhasabah Jiwa

Lihat Juga

Doa Cinta Sang Imam

Ya Allah Engkau tahu Hati-hati ini telah Berkumpul dalam cintaMu Bertemu dalam taatMu Menyatu menolong …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: